Guntur Sasono: Madrasah dan Masyarakat Harus Bersinergi Membangun Literasi Politik yang Beretika dan Santun

MADIUN – Guntur Sasono mendorong penguatan sinergi antara madrasah dan masyarakat dalam membangun literasi politik yang beretika, santun, dan bertanggung jawab. Pendidikan politik yang baik menjadi salah satu fondasi penting untuk melahirkan masyarakat yang cerdas, kritis, serta mampu berpartisipasi secara positif dalam kehidupan demokrasi.

Pesan tersebut menjadi perhatian dalam kegiatan Ngobrol Pendidikan Islam yang mengangkat tema “Sinergi Madrasah dan Masyarakat melalui Pendidikan Literasi Politik Beretika dan Santun”, di Gedung Diklat Kota Madiun, Jalan Duku No. 1, Kejuron, Kecamatan Taman, Kota Madiun, Selasa, 20 Oktober 2026. Kegiatan ini diikuti sekitar 250 peserta.

Dalam pandangannya, Guntur Sasono menegaskan bahwa pendidikan politik tidak semata-mata berkaitan dengan pemilu, partai politik, maupun perebutan kekuasaan. Lebih dari itu, literasi politik merupakan proses pembelajaran untuk memahami hak dan kewajiban sebagai warga negara, menghormati perbedaan pandangan, serta menyampaikan aspirasi secara santun dan bertanggung jawab.

“Pendidikan politik harus dimulai dari pembentukan karakter. Kita ingin generasi muda tidak hanya cerdas dalam memahami persoalan politik, tetapi juga memiliki akhlak, etika, dan kesantunan dalam menyampaikan pendapat. Berbeda pilihan itu hal yang wajar, tetapi persaudaraan dan persatuan harus tetap kita jaga,” demikian pesan Guntur Sasono dalam draf pernyataan untuk kegiatan tersebut.

Menurutnya, madrasah memiliki peran strategis dalam membentuk generasi yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga memiliki karakter dan akhlak yang baik. Nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, toleransi, dan penghormatan terhadap perbedaan perlu menjadi bagian dari pendidikan yang diterapkan secara berkelanjutan.

Namun, upaya tersebut tidak dapat dibebankan kepada lembaga pendidikan semata. Keluarga, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan lingkungan sosial juga memiliki tanggung jawab untuk memberikan teladan dalam kehidupan sehari-hari.

“Madrasah tidak bisa berjalan sendiri. Harus ada sinergi dengan keluarga dan masyarakat. Kalau anak-anak kita diajarkan kejujuran, menghormati perbedaan, dan bertanggung jawab di madrasah, nilai-nilai itu juga harus diperkuat di lingkungan keluarga dan masyarakat,” demikian draf kutipan langsung Guntur Sasono.

Ia juga menekankan pentingnya literasi politik di tengah derasnya arus informasi digital. Masyarakat perlu memiliki kemampuan untuk memilah informasi, memeriksa kebenaran berita, memahami persoalan publik, dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang berpotensi memecah belah.

“Jangan sampai perbedaan pandangan politik membuat kita kehilangan rasa persaudaraan. Politik seharusnya menjadi sarana untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat, bukan alasan untuk saling bermusuhan. Karena itu, kita perlu membangun budaya politik yang santun, mengedepankan dialog, dan berlandaskan informasi yang benar,” demikian pesan yang dirumuskan untuk mewakili pandangan Guntur Sasono.

Melalui kegiatan Ngobrol Pendidikan Islam, diharapkan terbangun pemahaman bersama mengenai pentingnya mengintegrasikan pendidikan agama, pembentukan akhlak, dan literasi politik. Ketiganya dapat menjadi bekal bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam demokrasi secara kritis, bijaksana, dan bertanggung jawab.

Kegiatan ini sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi antara madrasah dan masyarakat dalam menyiapkan generasi yang berkarakter, menghargai keberagaman, serta mampu menjaga persatuan bangsa.

Sinergi madrasah dan masyarakat merupakan investasi penting bagi masa depan demokrasi Indonesia. Dengan pendidikan literasi politik yang beretika dan santun, diharapkan tumbuh masyarakat yang tidak hanya memahami hak-hak politiknya, tetapi juga mampu menjalankan tanggung jawab kewarganegaraan dengan menjunjung tinggi nilai agama, moralitas, dan persatuan.

BREAKING
ucijunaedi
ucijunaedi
Articles: 6